“Dampak berantai dari kampanye mereka dapat menjalar ke layanan esensial seperti perbankan dan keuangan, transportasi, hingga layanan medis,” kata Teo.
BACA JUGA:Sambut Ramadhan, Lapas Narkotika Muara Beliti Gelar Rapat Koordinasi Penguatan Tugas dan Pengamanan
BACA JUGA:Dukung Kiprah Perempuan NU, Kalapas Narkotika Muara Beliti Hadiri Pelantikan PC Muslimat NU
Kelompok UNC3886 sendiri pertama kali diidentifikasi pada 2022 oleh firma keamanan siber Mandiant sebagai aktor spionase siber yang berhubungan dengan China. Namun, Kedutaan Besar China di Singapura membantah keterlibatan dalam serangan tersebut dan menegaskan bahwa pemerintah China menindak segala bentuk kejahatan siber sesuai hukum yang berlaku.
Teo juga menyoroti bahwa kerusakan pada infrastruktur telekomunikasi dapat membawa konsekuensi besar, tidak hanya pada operasional layanan, tetapi juga terhadap reputasi Singapura sebagai pusat keuangan dan logistik global.
BACA JUGA:MAN 1 Model Lubuk Linggau Lakukan Kunjungan Edukasi Jurnalistik di Graha Pena Linggau
BACA JUGA:Pemkot Lubuk Linggau Hadiri Peletakan Batu Pertama Perluasan Gereja Katolik Penyelenggara Ilahi
Selama ini, banyak perusahaan multinasional memilih menempatkan kantor pusat regional maupun global mereka di Singapura karena dianggap memiliki konektivitas digital yang aman dan andal. Jika kepercayaan terhadap sistem tersebut terganggu, potensi investasi pun bisa terpengaruh.
“Perusahaan mungkin akan berpikir ulang untuk berinvestasi di Singapura jika mereka meragukan apakah sistem kami benar-benar bersih, tangguh, dan aman,” ujarnya.
Insiden ini menjadi pengingat bahwa perlindungan infrastruktur digital merupakan elemen krusial dalam menjaga stabilitas ekonomi dan reputasi internasional suatu negara.