Hindari “Adu Nasib” Saat Mendengarkan
Kesalahan yang kerap terjadi ketika mendengarkan curhatan adalah kecenderungan membandingkan pengalaman atau “adu nasib”. Alih-alih membantu, sikap ini justru dapat membuat teman merasa tidak didengar.
“Fokusnya adalah cerita orang itu. Mereka yang sedang jadi tokoh utama,” jelas Yovania.
Sebelum memberikan tanggapan atau saran, ia menyarankan untuk bertanya terlebih dahulu mengenai kebutuhan teman. Apakah mereka hanya ingin didengarkan, membutuhkan sudut pandang lain, atau benar-benar meminta saran.
Pertanyaan sederhana seperti, “Kamu pengin didengerin aja, butuh pendapat, atau lagi butuh saran?” dinilai menjadi kunci komunikasi yang efektif.
BACA JUGA:Suasana Haru Iringi Pemakaman Korban Diduga Diterkam Harimau di Musi Rawas
Pastikan Diri Sendiri Siap Mendengar
Yovania juga mengingatkan bahwa menjadi pendengar yang baik membutuhkan kesiapan mental. Jika seorang teman menunjukkan gejala depresi tetapi belum siap bercerita, pendekatan terbaik adalah tetap hadir tanpa paksaan dan menunjukkan kesiapan untuk mendengarkan kapan pun mereka merasa aman.
Namun, menjaga kesehatan mental diri sendiri tetap menjadi prioritas utama. Menjadi pendengar atau caregiver memerlukan energi emosional yang stabil. Tidak ada salahnya menolak mendengarkan jika kondisi diri sedang tidak memungkinkan.
“Ibarat di pesawat saat keadaan darurat, masker oksigen harus dipakai ke diri sendiri dulu sebelum membantu orang lain,” pungkasnya.
BACA JUGA:Sentuhan PHE Jambi Merang Ubah Singkong Jadi Sumber Harapan
BACA JUGA:Lewat Program SENJA KARSA, PEP Jambi Dukung Lansia Desa Kota Karang Jaga Asa Tetap Berdaya
Dengan empati, validasi, dan kesiapan diri, setiap orang dapat menjadi teman curhat yang suportif tanpa perlu membandingkan atau mengambil alih cerita. Dukungan sederhana namun tulus sering kali menjadi kekuatan besar bagi mereka yang sedang berjuang secara emosional.