Belajar Jadi Pendengar yang Empatik: Cara Tepat Menemani Teman Curhat Tanpa Membandingkan Masalah

Senin 02-03-2026,11:37 WIB
Reporter : Rendi Setiawan
Editor : Rendi Setiawan

SILAMPARITV.CO.ID - Masa remaja kerap menjadi fase yang penuh dinamika emosional. Permasalahan keluarga, tekanan akademik, hingga konflik pertemanan dapat berdampak besar pada kondisi psikologis pelajar. Dalam situasi seperti ini, kehadiran teman yang mampu memberikan rasa aman dan pengertian menjadi sangat berarti bagi mereka yang sedang merasa terpuruk.

Namun, tidak sedikit pelajar yang masih bingung bagaimana cara merespons curhatan teman tanpa terkesan menggurui atau justru membuat suasana semakin tidak nyaman.

BACA JUGA:Diskon Tambah Daya Listrik 50 Persen PLN Maret 2026, Ini Syarat, Tarif dan Cara Klaimnya

BACA JUGA:Rahasia Ketupat Gurih Anti Lembek, Sajian Wajib Lebaran yang Tahan Hingga Tiga Hari

Advokat kesehatan mental sekaligus pendiri komunitas Patahkan Stigma, Yovania AJ, membagikan sejumlah panduan sederhana namun penting. Dalam dialog bersama Kementerian Koordinator Pemberdayaan Masyarakat RI di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia, Jumat (27/2/2026), Yovania menekankan pentingnya empati sebagai langkah awal.

“Cara termudah untuk bisa tahu kita harus apa, itu adalah dengan memposisikan dia menjadi diri kita sendiri,” ujar Yovania. Ia mengajak setiap orang untuk membayangkan berada di posisi teman yang sedang bercerita, lalu merenungkan kata-kata apa yang paling ingin didengar dalam situasi tersebut.

BACA JUGA:Kurang dari Tujuh Jam, Otak Bisa Alami Penurunan Fungsi Tanpa Disadari

BACA JUGA:SPPG Wajib Aktif di Media Sosial, BGN Minta Menu MBG Dipublikasikan Setiap Hari

Jadi Pendengar Aktif dan Berikan Validasi

Menurut Yovania, kebutuhan utama seseorang saat curhat adalah didengarkan secara aktif. Pendengar aktif tidak hanya diam, tetapi juga menunjukkan perhatian melalui gestur seperti mengangguk, menjaga kontak mata, serta tidak terdistraksi oleh gawai.

Selain itu, memberikan validasi atas perasaan teman juga sangat penting. Meski masalah yang disampaikan terlihat sederhana bagi orang lain, tetaplah mengakui bahwa perasaan sedih, kecewa, atau marah yang dirasakan adalah nyata.

“Kita harus mencoba untuk memahami bahwa dia memang sedang merasa sedih atau kecewa,” tegasnya.

Validasi membantu seseorang merasa tidak sendirian dan lebih diterima dalam menghadapi emosinya.

BACA JUGA:Angin Puting Beliung Terjang Rumah Warga, Polres Lubuklinggau Gerak Cepat Bantu Warga

BACA JUGA:Polres Lubuklinggau Gelar BELIDA Dukung Gerakan ASRI

Kategori :