Beban Ganda Sandwich Generation Picu Generasi Produktif Tunda Punya Anak

Rabu 04-03-2026,13:25 WIB
Reporter : Shinta
Editor : Shinta

“Secara psikologis, kapasitas mereka untuk memberikan perhatian dan kasih sayang sudah terkuras untuk merawat generasi di atas mereka,” ujar Danti.

Kelelahan mental ini sering tidak terlihat dari luar. Namun dalam jangka panjang, kondisi tersebut memengaruhi berbagai keputusan penting dalam hidup, termasuk soal memiliki anak.

BACA JUGA:Bupati Musi Rawas Hadiri Lepas Sambut Danrem 044/Garuda Dempo, Perkuat Sinergi TNI dan Pemda

BACA JUGA:Bupati Musi Rawas Hadiri Lepas Sambut Danrem 044/Garuda Dempo, Perkuat Sinergi TNI dan Pemda

Beban Emosional yang Tak Kasatmata

Selain persoalan biaya hidup, generasi ini juga memikul tanggung jawab emosional. Mereka menjadi tempat bergantung bagi orangtua dalam berbagai situasi, mulai dari kebutuhan harian hingga dukungan psikologis.

Peran tersebut menuntut waktu, perhatian, dan kestabilan emosi. Tidak sedikit yang merasa belum memiliki ruang mental yang cukup untuk menjalani peran sebagai orangtua.

Dalam kondisi seperti itu, menambah anak dipandang sebagai beban tambahan yang melebihi kapasitas yang dimiliki saat ini.

BACA JUGA:Pemuda Dijuluki Penguasa Ganja di Lubuklinggau Diciduk Polisi Saat Tunggu Pembeli

BACA JUGA:Nikmati Menu Ramadhan Iftar Buffet – All You Can Eat di Dewinda Hotel Lubuklinggau

Keputusan Lebih Matang

Danti menilai, fenomena ini juga menunjukkan adanya perubahan pola pikir dalam membangun keluarga. Kini, banyak orang mempertimbangkan kesiapan mental selain faktor ekonomi sebelum memutuskan memiliki anak.

Bagi sebagian generasi produktif, menunda memiliki anak bukan sekadar pilihan, melainkan langkah realistis hingga kondisi finansial dan mental dirasa lebih stabil.

Tekanan sebagai sandwich generation pun menjadi salah satu faktor penting yang membentuk cara pandang baru terhadap perencanaan keluarga di Indonesia.

Kategori :