Pendiri Coin Bureau, Nic Puckrin, menilai kondisi saat ini sebagai fase akhir dari reli emas jangka panjang.
“Taruhan dalam perang Iran baru saja meningkat dan apa yang kita lihat adalah pelarian terakhir ke tempat yang aman. Inilah tepatnya bagaimana perdagangan momentum yang ramai berakhir,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Strategi Komoditas BNP Paribas, David Wilson, menyebut bahwa reaksi pasar terhadap guncangan makroekonomi saat ini memiliki pola yang pernah terjadi sebelumnya.
Kenaikan harga energi akibat konflik dinilai memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral global, yang pada akhirnya menjadi tekanan tambahan bagi emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
BACA JUGA:Perempuan 34 Tahun Ditemukan Meninggal di Mal Medan, Polisi Lakukan Penyelidikan
BACA JUGA:HP Murah Terancam Mahal: Krisis Chip AI dan Geopolitik Guncang Industri Smartphone
Tren Penurunan Berlanjut
Harga emas tercatat telah mengalami koreksi selama sembilan hari berturut-turut. Kondisi ini menunjukkan tekanan berkelanjutan akibat kombinasi faktor global, mulai dari konflik geopolitik hingga kebijakan moneter.
Jika situasi ini terus berlanjut, para analis memperkirakan pergerakan harga emas masih akan sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga serta perkembangan konflik di Timur Tengah.