Makna Baru Hari Kartini: Pentingnya Waktu Me Time bagi Perempuan Modern

Selasa 21-04-2026,08:42 WIB
Reporter : Shinta Triana Dewi
Editor : Shinta Triana Dewi

Kondisi ini dikenal sebagai time poverty, yaitu keterbatasan waktu untuk diri sendiri, termasuk untuk beristirahat atau menjalani hobi.

BACA JUGA:MotoGP Spanyol 2026 Siap Digelar, Ducati Ditantang Aprilia di Sirkuit Jerez

BACA JUGA:Gus Ipul Tinjau STIP Jakarta, Sekolah Rakyat Siap Beroperasi Awal Mei

Hobi sebagai Cara Mengambil Kembali Waktu

Di tengah keterbatasan tersebut, hobi menjadi cara untuk reclaiming time—mengambil kembali ruang personal yang sering terabaikan. Dari sisi psikologis, aktivitas menyenangkan juga membantu meningkatkan resilience, yaitu kemampuan bertahan dan beradaptasi dalam situasi sulit.

Kegiatan sederhana seperti berkebun, membuat kerajinan, atau aktivitas kreatif lainnya terbukti dapat meningkatkan kepuasan hidup serta mengurangi gejala depresi dan kecemasan.

Jika dilakukan dalam bentuk aktivitas fisik, manfaatnya bahkan lebih luas. World Health Organization menyebut aktivitas fisik rutin dapat membantu meningkatkan kesejahteraan sekaligus menurunkan risiko gangguan mental.

BACA JUGA:Phone 17 Pro Edisi Steve Jobs Tembus Rp140 Juta, Wow Fantastis !

BACA JUGA:Terbongkar! Pria Bertopeng Simpan Belasan Paket Sabu di Rumah di Musi Rawas

Emansipasi dalam Bentuk Sederhana

Selama ini, hobi sering dianggap sebagai bentuk self-care. Namun bagi perempuan, maknanya bisa lebih dalam—ini tentang hak atas waktu, ruang, dan identitas diri di luar berbagai peran yang dijalani.

Hari Kartini menjadi pengingat bahwa emansipasi tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Memiliki waktu untuk membaca buku, berolahraga, melukis, atau sekadar menikmati aktivitas yang disukai juga merupakan bagian dari kebebasan itu sendiri.

BACA JUGA:Vespa 946 Horse Resmi Meluncur di Indonesia, Skuter Premium Bertema Tahun Kuda

Saatnya Memberi Ruang untuk Diri Sendiri

Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, memberikan waktu untuk diri sendiri bukanlah hal yang egois, melainkan langkah penting untuk menjaga keseimbangan hidup.

Karena pada akhirnya, perempuan yang bahagia dan sehat secara mental akan mampu menjalani perannya dengan lebih optimal dan bermakna.

Kategori :