Ribuan Dapur Program Gizi Dihentikan Sementara, BGN Temukan Masalah Sanitasi dan Dugaan Keracunan

Ribuan Dapur Program Gizi Dihentikan Sementara, BGN Temukan Masalah Sanitasi dan Dugaan Keracunan

Ribuan Dapur Program Gizi Dihentikan Sementara, BGN Temukan Masalah Sanitasi dan Dugaan Keracunan--Net

SILAMPARITV.CO.ID - Sebanyak 1.528 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah di Indonesia dihentikan sementara operasionalnya. Langkah ini dilakukan setelah adanya laporan dugaan keracunan makanan serta temuan dapur yang belum memenuhi standar sanitasi.

 

Penghentian sementara tersebut dilaporkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Meski jumlahnya cukup besar, pihak BGN menyebut angka tersebut mulai mengalami penurunan dalam beberapa pekan terakhir.

BACA JUGA:Wacana WFH Sepekan Sekali Muncul, DPR Ingatkan Jangan Sampai Jadi Libur Panjang

BACA JUGA:Begini Hukuman Bagi Koruptor Menurut Hukum Islam

 

Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan penurunan terjadi karena banyak SPPG yang mulai mendaftarkan kembali Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).

 

“Penurunan terjadi karena banyak yang sudah mendaftar SLHS,” ujar Nanik dalam keterangan tertulis, Kamis (26/3/2026).

BACA JUGA:Konser “BTS: The Comeback Live” Jadi Tayangan Terpopuler Netflix di 77 Negara

BACA JUGA:Harga Pangan Nasional Hari Ini: Cabai Rawit Merah Tembus Rp91.700 per Kg, Ayam Ras Rp43.900

 

Dugaan Keracunan hingga Dapur Tak Standar

 

BGN membagi penghentian operasional SPPG tersebut dalam dua kategori utama.

 

Kategori pertama adalah kejadian menonjol (KM) yang berkaitan langsung dengan dugaan keracunan pangan. Dalam kategori ini terdapat 72 SPPG yang terpaksa dihentikan sementara operasionalnya.

BACA JUGA:Jangan Langsung Dimasak, Ini Jenis Makanan Beku yang Sebaiknya Dicairkan Terlebih Dahulu

BACA JUGA:Konser BTS Disaksikan 18,4 Juta Penonton, Jadi Tayangan Terpopuler di Netflix

 

Sementara itu, masalah terbesar justru berasal dari kategori non-kejadian menonjol (non-KM). Dalam kategori ini, 692 SPPG dihentikan operasionalnya karena persoalan administratif dan teknis.

 

Beberapa masalah yang ditemukan antara lain dapur yang tidak sesuai dengan petunjuk teknis, hingga belum memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) yang menjadi standar penting dalam pengelolaan makanan.

 

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan infrastruktur dapur dan kepatuhan terhadap standar keamanan pangan masih menjadi tantangan besar dalam pelaksanaan program pelayanan gizi.

BACA JUGA:Waspada Modus Penipuan Berkedok Affiliate, Jangan Mudah Tergiur Komisi Besar

BACA JUGA:Begal Jalur Binduriang Dibekuk Saat Menginap di Hotel, Polisi Masih Buru Rekan Pelaku

 

Pulau Jawa Dominasi Temuan

 

BGN juga mengungkapkan bahwa dua pekan sebelumnya jumlah SPPG terdampak sempat lebih tinggi. Wilayah Pulau Jawa disebut menjadi daerah dengan jumlah kasus terbanyak, dengan total temuan mencapai lebih dari 1.500 unit.

 

Meski demikian, BGN menegaskan bahwa penghentian sementara ini bukan semata-mata sebagai bentuk sanksi. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya korektif untuk memastikan layanan pemenuhan gizi kepada masyarakat tetap aman dan sesuai standar.

BACA JUGA:Diduga Langgar UU ITE, Akun Facebook Dilaporkan Owner Linggau Keramik ke Polres Lubuklinggau

BACA JUGA:Manfaatkan Lahan, Lapas Narkotika Muara Beliti Giatkan Penanaman Timun

 

Fokus utama pemerintah saat ini adalah mendorong setiap SPPG untuk memenuhi standar higiene dan sanitasi melalui pengurusan SLHS serta memperbaiki fasilitas dapur yang belum sesuai ketentuan.

Sumber: