Gen Z Nepal Bersih-bersih Kota Usai Demo Ricuh, Barang Jarahan Dikembalikan.

Gen Z Nepal Bersih-bersih Kota Usai Demo Ricuh, Barang Jarahan Dikembalikan.

Gen Z Nepal Bersih-bersih Kota Usai Demo Ricuh, Barang Jarahan Dikembalikan--ist

SILAMPARITV.CO.ID - Setelah berhari-hari dilanda kerusuhan besar yang memaksa Perdana Menteri KP Sharma Oli mengundurkan diri, pemandangan berbeda terlihat di ibu kota Nepal, Kathmandu, pada Sabtu (13/9/2025). Generasi Z (Gen Z) yang sebelumnya turun ke jalan untuk berdemonstrasi, kini kembali hadir dengan wajah baru: memegang sapu, kantong sampah, hingga kuas cat untuk membersihkan kota yang porak-poranda akibat kerusuhan.

BACA JUGA:Pulau Surga Terancam, Tambang Nikel Raja Ampat Kembali Beroperasi.

BACA JUGA:iOS 26 Dirilis 15 September, Ini Daftar iPhone yang Kebagian Update.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan anak-anak muda membersihkan trotoar, mengumpulkan puing, memperbaiki ubin jalan yang rusak, hingga mengecat ulang tembok yang sebelumnya penuh coretan. Tak hanya itu, sebagian demonstran juga mengembalikan barang-barang hasil penjarahan, mulai dari kulkas, microwave, hingga kipas angin.

BACA JUGA:Pedagang Ketoprak Disebut Bisa Kena Pasal Korupsi, MK Minta Penjelasan.

BACA JUGA:Viral Video Prabowo Tayang di Bioskop, Tuai Kritik Sebagai Propaganda.

 

Menurut penyelenggara aksi, kegiatan ini bertujuan menunjukkan tanggung jawab sipil serta menegaskan bahwa gerakan mereka bukan sekadar soal protes, tetapi juga membangun kembali negeri.

“Kami ingin dunia tahu bahwa kami tidak hanya marah, tapi juga peduli. Nepal adalah rumah kami, dan kami tidak ingin meninggalkannya dalam keadaan hancur,” ujar salah seorang aktivis muda di Kathmandu.

BACA JUGA:Prabowo Sapa Warga Saat Tinjau Korban Banjir Bali:

BACA JUGA:Mantan Panglima Israel Akui IDF Bunuh dan Lukai 200 Ribu Warga Gaza

 

Dari Protes hingga Kerusuhan

 

Gelombang demonstrasi Gen Z Nepal berawal pada Senin (8/9/2025), dipicu oleh kebijakan pemerintah yang menutup sejumlah media sosial populer dengan dalih keamanan siber dan pajak. Namun, keputusan itu justru memantik kemarahan publik yang lebih dalam terkait dugaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.

BACA JUGA:Kecelakaan di Tikungan Musi Rawas, Pemotor Terluka Parah Usai Hantam Truk.

BACA JUGA:Prabowo Disebut Akan Ganti Kapolri Jenderal Listyo, Dua Jenderal Bintang Tiga Masuk Kandidat.

Aksi yang awalnya damai berubah menjadi kerusuhan besar. Sejumlah kantor pemerintah dibakar, rumah politisi dirusak, hingga barikade jalanan dihancurkan. Puncaknya, Istana Singha Durbar—pusat pemerintahan Nepal—ikut dilalap api.

 

Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 51 orang tewas, termasuk 21 pengunjuk rasa, 9 tahanan, 3 polisi, dan belasan warga sipil lainnya. Seorang warga India juga dilaporkan menjadi korban. Lebih dari 1.300 orang terluka, dengan sekitar 1.000 di antaranya telah dipulangkan setelah menjalani perawatan.

BACA JUGA:Daftar 10 Negara yang Tolak Palestina Merdeka di Majelis Umum PBB

BACA JUGA:Listyo Akan Tetap Dipertahankan sebagai Kapolri Oleh DPR

Dampak Ekonomi dan Politik

Kerusuhan ini memberi pukulan telak terhadap sektor pariwisata urat nadi perekonomian Nepal. Asosiasi Hotel Nepal (HAN) mencatat kerugian mencapai lebih dari 25 miliar rupee (sekitar Rp. 4,6 triliun). Hotel Hilton di Kathmandu sendiri mengalami kerugian hingga 8 miliar rupee (sekitar Rp. 1,4 triliun). Puluhan hotel lain di Pokhara, Butwal, Bhairahawa, dan Biratnagar juga ikut rusak atau dijarah, mengancam ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian.

BACA JUGA:Percobaan Perampokan di Kosan Mahasiswi Lubuklinggau, Pelaku Belum Diringkus.

BACA JUGA:Korut Eksekusi Warga di Depan Publik karena Ketahuan Nonton Film Asing

Secara politik, mundurnya KP Sharma Oli beserta empat menterinya sempat menimbulkan kekosongan kekuasaan. Namun, mantan Ketua Mahkamah Agung, Sushila Karki, kini ditunjuk sebagai pemimpin sementara Nepal untuk mengisi kekosongan tersebut.

BACA JUGA:Eko Patrio Bantah Ngumpet di Luar Negeri Saat Demo

BACA JUGA:Presiden Prabowo Blusukan ke Gang-Gang Sempit Terdampak Banjir di Bali

Suara Keluarga Korban: Tuntut Keadilan

Di tengah upaya pemulihan, keluarga korban masih larut dalam duka. Mereka menggelar doa bersama dengan menyalakan lilin di depan kamar jenazah rumah sakit di Kathmandu.

“Kami harus memperjuangkan keadilan untuk keluarga kami yang terbunuh, dan kami tidak bisa diam lebih lama,” kata Kamal Subedi, salah satu peserta doa.

BACA JUGA:Motor Paman Digelapkan, Pemuda Asal Lubuklinggau Masuk Bui.

BACA JUGA:Prabowo Setujui Penarikan Dana Rp. 200 Triliun Pemerintah dari BI

Bhol Bahadur Bishwokarma, warga lain, masih menanti kepastian nasib saudaranya, Santosh, yang diduga tewas akibat tembakan polisi. “Kami dengar jenazahnya ada di kamar mayat, tapi tidak ada konfirmasi. Kami bahkan belum bisa melihat kondisinya. Kami menuntut pemerintah segera menjawab kekhawatiran ini,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

BACA JUGA:Polisi Lalai Terbitkan SKCK, Tersangka Pembunuhan Malah Jadi Anggota DPRD.

BACA JUGA:PLN Pulihkan Listrik Pascabencana, Warga Bali Kembali Beraktivitas

Harapan Baru dari Gen Z

Meski Nepal tengah dirundung luka, aksi bersih-bersih yang dilakukan Gen Z membawa secercah harapan. Mereka ingin menunjukkan bahwa perubahan bukan hanya lewat protes, tetapi juga aksi nyata untuk memperbaiki bangsa.

“Melawan itu perlu, tapi membangun kembali jauh lebih penting. Kami ingin jadi generasi yang tidak hanya menuntut, tapi juga memberi,” ujar seorang relawan muda yang ikut aksi bersih-bersih.

BACA JUGA:Pos Ronda Kembali Jalan, Mendagri Minta RT/RW Tingkatkan Keamanan Lingkungan.

BACA JUGA:Charlie Kirk, Pendukung Trump Ditembak Mati di Universitas Utah

Kini, seluruh mata tertuju pada bagaimana Nepal bangkit dari krisis politik, ekonomi, dan sosial yang tengah dihadapinya.

BACA JUGA:Ini Alasan Kementerian PU Tarik Diri dari Pembangunan IKN Mulai 2026

BACA JUGA:Dorong Santri Adaptif, Gibran Tekankan Pentingnya Belajar AI dan Coding

Sumber: