Di Balik Manisnya Kue Delapan Jam dan Maksuba, Tersimpan Filosofi dan Sejarah Kuliner Palembang

Di Balik Manisnya Kue Delapan Jam dan Maksuba, Tersimpan Filosofi dan Sejarah Kuliner Palembang

Di Balik Manisnya Kue Delapan Jam dan Maksuba, Tersimpan Filosofi dan Sejarah Kuliner Palembang--Net

SILAMPARITV.CO.ID - Kota Palembang tidak hanya terkenal dengan pempek, tetapi juga memiliki beragam kue tradisional yang sarat nilai budaya. Dua di antaranya adalah kue delapan jam dan kue maksuba, yang telah dikenal sejak masa Kesultanan Palembang.

Di balik rasanya yang manis dan legit, kedua kue basah khas Palembang ini menyimpan cerita sejarah serta filosofi kehidupan masyarakat pada masa lampau.

Owner toko oleh-oleh khas Palembang Palembang Harum, Mardho Tilla, mengatakan pihaknya berupaya mengenalkan kembali sejarah kue tradisional tersebut kepada konsumen melalui inovasi kemasan produk.

BACA JUGA:Resep Malbi Khas Palembang, Olahan Daging Manis Gurih yang Cocok untuk Menu Berbuka Puasa

BACA JUGA:Cuaca Sumsel Hari Ini Didominasi Hujan, 13 Wilayah Berpotensi Disertai Petir dan Angin Kencang

Menurutnya, pada setiap kotak kemasan disertakan cerita singkat mengenai sejarah kue delapan jam dan maksuba, sehingga pembeli tidak hanya menikmati rasanya tetapi juga memahami nilai budaya di baliknya.

“Supaya pembeli tahu sejarahnya, kami menampilkan cerita dan ilustrasi di kemasan. Ada dua warna, merah untuk kue delapan jam dan kuning untuk maksuba,” ujarnya.

BACA JUGA:Tahapan Gejala Campak dari Hari ke Hari, Waspadai Tanda Awal hingga Proses Pemulihan

Filosofi Keseimbangan Hidup dari Kue Delapan Jam


Kue delapan jam--Net

Mardho menjelaskan, kue delapan jam memiliki filosofi tentang keseimbangan dalam kehidupan manusia. Hal ini tercermin dari proses memasaknya yang harus dilakukan tepat selama delapan jam, tidak boleh kurang maupun lebih.

Filosofi tersebut menggambarkan pembagian waktu ideal dalam kehidupan sehari-hari, yakni delapan jam untuk bekerja, delapan jam untuk beristirahat, dan delapan jam untuk beribadah.

BACA JUGA:Soda Api untuk Mengatasi WC Mampet, Efektif Tapi Perlu Hati-Hati

Cerita mengenai filosofi tersebut dirangkum dari berbagai diskusi dengan sejumlah sejarawan Palembang, termasuk Amin, yang dikenal meneliti sejarah kuliner kota tersebut.

“Di kemasan juga kami tampilkan ilustrasi cara membuat kue delapan jam menggunakan oven tradisional atau gendok yang memakai kayu bakar,” jelasnya.

Sumber: