Roti Bluder – Roti klasik dengan tekstur empuk dan lembut, hadir dalam bentuk mirip jamur, resep kuno yang masih eksis hingga kini.
Klappertaart – Tart kelapa manado dengan campuran kelapa, kismis, kenari, susu, gula, dan rempah; hasil eksperimen noni Belanda yang rasanya manis dan legit.
Dadar Gulung / Panekuk – Terinspirasi dari pannekoek Belanda, hidangan tipis bisa digulung, jadi kue dadar gulung khas Indonesia.
Kue Cubit – Mirip poffertjes, kue kecil manis yang banyak dijual di pinggir jalan, jadi jajanan legendaris sekolah dan pasar malam—sempurna untuk dinikmati kapan saja.
Oliebollen / Odading (Roti Goreng) – Berasal dari kue Belanda, diadaptasi jadi roti goreng manis dengan taburan wijen—gaya lokal yang lebih sederhana dan mudah diterima.
Kue Lidah Kucing & Kue Semprong – Meskipun tak selalu disebut di daftar utama, keduanya juga punya akar Belanda: lidah kucing dari kattentong, dan semprong (kuih kapit) yang mirip wafer Belanda, tetap eksis di Indonesia sebagai snack tradisional.
Jejak Belanda dalam Cita Rasa Nusantara
BACA JUGA:Lapas Lubuk Linggau Gelar Bakti Sosial sebagai Implementasi Program Akselerasi Menimipas
BACA JUGA:Kelebihan dan Kekurangan iPad Air 11 (2024)
Pengaruh Belanda di ranah kuliner Indonesia mencakup teknik memasak, bahan, hingga bentuk sajian. Namun, yang membuat hidangan-hidangan ini tetap relevan adalah adaptasi cerdik dengan selera lokal—penambahan rempah, inovasi bahan, dan penyajian yang pas untuk masyarakat kita