Usai Lebaran, Dokter Ingatkan Risiko Gula Darah dan Kolesterol Naik Akibat Pola Makan Berlebih
Usai Lebaran, Dokter Ingatkan Risiko Gula Darah dan Kolesterol Naik Akibat Pola Makan Berlebih--ist
SILAMPARITV.CO.ID - Perayaan Idul Fitri identik dengan berbagai hidangan khas seperti opor ayam, rendang, ketupat, hingga aneka kue manis yang tersaji di meja makan. Namun di balik kenikmatan makanan tersebut, para ahli kesehatan mengingatkan adanya risiko lonjakan gula darah dan kolesterol setelah Lebaran jika pola makan tidak dikendalikan.
BACA JUGA:Waspada Penipuan Digital Jelang Lebaran, Dana THR Kerap Jadi Target Kejahatan Siber
Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus konsultan metabolik endokrin dari Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, menjelaskan bahwa konsumsi makanan tinggi lemak, santan, gula, dan karbohidrat biasanya meningkat drastis selama perayaan Lebaran.
“Jika tidak dikendalikan, kadar gula darah dan kolesterol juga dapat meningkat,” kata dr. Waluyo.
BACA JUGA:Waspada Campak Saat Lebaran, Orang Tua Diminta Lindungi Bayi dan Balita dari Penularan
Perubahan Pola Makan Jadi Pemicu
Menurut dr. Waluyo, perubahan pola makan secara drastis setelah menjalani puasa selama Ramadan menjadi salah satu penyebab utama gangguan metabolik yang sering terjadi setiap tahun setelah Lebaran.
Selama satu bulan berpuasa, tubuh terbiasa dengan pola makan yang lebih teratur dan asupan kalori yang lebih terbatas. Ketika tiba-tiba menerima makanan dengan kalori tinggi dalam jumlah besar, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali.
Proses adaptasi inilah yang dapat memicu kenaikan kadar gula darah dan kolesterol, terutama jika konsumsi makanan tinggi lemak dan gula tidak diimbangi dengan pola makan sehat.
BACA JUGA:4 Kuliner Berkuah Khas Palembang Selain Pempek yang Lezat untuk Menu Buka Puasa
BACA JUGA:Keutamaan Malam Lailatul Qadar dan Amalan yang Dianjurkan di 10 Hari Terakhir Ramadan
Risiko Lebih Besar pada Kelompok Tertentu
Kondisi ini menjadi lebih berisiko bagi orang yang memiliki faktor tertentu seperti obesitas, riwayat diabetes, atau kadar kolesterol tinggi.
Pada kelompok tersebut, lonjakan asupan makanan tinggi lemak dan gula dapat memicu perubahan metabolik yang lebih signifikan dan bahkan memperburuk kondisi kesehatan yang sebelumnya sudah terkendali.
Sumber: