SILAMPARITV.CO.ID - Pagi itu, seorang ibu rumah tangga menaiki tangga dua lantai sambil membawa cucian. Nafasnya sedikit terengah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Di sore hari, seorang karyawan bergegas mengejar bus, mempercepat langkahnya agar tidak tertinggal. Di akhir pekan, seorang kakek berkebun dengan penuh semangat, mencabut gulma dan menggali tanah dengan ritme yang mantap.
Tak ada dari mereka yang merasa sedang “berolahraga”. Namun tanpa disadari, aktivitas singkat itu mungkin sedang memperpanjang hidup mereka.
Selama ini, kita mengenal rumus klasik hidup sehat: olahraga teratur dan makan bergizi. Target 10.000 langkah per hari atau 150 menit aktivitas fisik per minggu kerap menjadi standar emas. Tetapi bagaimana dengan mereka yang tak punya waktu ke gym, atau merasa target tersebut terlalu berat untuk dicapai?
BACA JUGA:Peduli Lingkungan Ibadah, Lapas Narkotika Muara Beliti Gelar Kerja Bakti Bersihkan Masjid
BACA JUGA:Tingkatkan Kualitas Pembinaan, Lapas Lubuklinggau Ikuti Sosialisasi Case Plan Narapidana
Ilmu olahraga dalam beberapa tahun terakhir menawarkan perspektif baru. Muncullah istilah VILPA vigorous intermittent lifestyle physical activity—atau aktivitas fisik gaya hidup yang dilakukan secara singkat namun cukup intens. Istilah ini merujuk pada gerakan sehari-hari yang dilakukan dengan tenaga lebih besar selama satu hingga dua menit, cukup untuk membuat detak jantung meningkat.
Konsep ini berkembang dari penelitian tentang latihan interval intensitas tinggi atau HIIT, yang selama satu dekade terakhir populer di kalangan mereka yang memiliki waktu terbatas. HIIT—yang melibatkan lari cepat, bersepeda, atau latihan beban dengan berat tubuh seperti squat dan jumping jack—telah terbukti membantu mengontrol gula darah, kolesterol, tekanan darah, dan lemak tubuh.
Namun VILPA berbeda. Ia tidak menuntut pakaian olahraga, alat khusus, atau jadwal tertentu. Profesor kedokteran olahraga dari University College London, Mark Hamer, menyebutnya sebagai versi HIIT yang lebih ringan dan alami dalam keseharian.
BACA JUGA:Dorong Warga Binaan Lebih Mandiri, Lapas Lubuklinggau Matangkan Program Pendidikan Kesetaraan
BACA JUGA:Sidang TPP Lapas Lubuklinggau Rekomendasikan 17 Warga Binaan Terima Program Integrasi
Gagasan ini muncul ketika Hamer dan timnya menganalisis data gerakan dari perangkat wearable yang dikenakan oleh ribuan orang yang mengaku tidak berolahraga. Para peneliti terkejut menemukan bahwa meskipun tak pernah ke gym, sebagian orang tetap mengumpulkan aktivitas fisik yang cukup signifikan hanya dari rutinitas harian—berjalan cepat ke kantor, menaiki tangga, atau melakukan pekerjaan rumah dengan tempo tinggi.
“Sebagian besar gerakan itu terjadi dalam waktu yang sangat singkat,” jelas Hamer. Dari sinilah muncul konsep microburst—ledakan gerakan pendek namun bertenaga.
Hasilnya mengejutkan. Dalam studi tahun 2022 terhadap 25.241 orang di Inggris, Hamer bersama peneliti dari Universitas Sydney menemukan bahwa hanya tiga hingga empat sesi VILPA berdurasi satu menit per hari mampu menurunkan risiko kematian dini secara keseluruhan hingga 40 persen. Risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular bahkan turun hingga 49 persen dibandingkan mereka yang hampir tidak bergerak sama sekali.
BACA JUGA:Perkuat Zona Integritas, Lapas Lubuklinggau Teken Pakta Integritas Menuju WBK/WBBM
BACA JUGA: Kelola Anggaran Secara Akuntabel, Lapas Lubuklinggau Borong Dua Penghargaan di KPPN