Janji Kuota Kapolri Berujung Tipu-Tipu, Warga Pekalongan Rugi Rp. 2,6 Miliar.

Janji Kuota Kapolri Berujung Tipu-Tipu, Warga Pekalongan Rugi Rp. 2,6 Miliar.

Janji Kuota Kapolri Berujung Tipu-Tipu, Warga Pekalongan Rugi Rp. 2,6 Miliar.--ist

SILAMPARITV.CO.ID - Mimpi besar Dwi Purwanto, warga Kabupaten Pekalongan, untuk melihat anaknya berseragam taruna Akademi Kepolisian (Akpol) berubah menjadi kabar pahit. Ia kehilangan uang Rp. 2,6 miliar setelah menjadi korban dugaan penipuan seleksi Akpol yang melibatkan empat orang, dua di antaranya merupakan anggota aktif Polres Pekalongan.

BACA JUGA:Oknum TNI Penganiaya Pelajar SMP hingga Tewas Divonis 10 Bulan Penjara

BACA JUGA:Wabup Musi Rawas Suprayitno Resmi Lepas Siswa SDIT Al-Furqon ke Singa Cup 2025 di Singapura

Awal Mula Penipuan: “Kuota Kapolri”

Kasus ini bermula pada 9 Desember 2024, ketika Dwi menerima pesan WhatsApp dari Aipda F, anggota Polres Pekalongan. Dalam pesan itu, F menawarkan “jalur khusus Kuota Kapolri” untuk memasukkan anak Dwi ke Akademi Kepolisian.

“Katanya ini kuota khusus, tinggal bayar Rp. 3,5 miliar. Separuh dulu tanda jadi, sisanya setelah pantukhir pusat,” ujar Dwi saat ditemui Tribunjateng.com, Rabu (22/10/2025).

BACA JUGA:Wapres Gibran Disematkan Gelar Kehormatan Kaicil Kastela, Simbol Pemersatu Nusantara.

BACA JUGA:Gali Emas di Lahan Pribadi Tanpa Izin, Dua Pemuda Sukabumi Dijerat UU Minerba.

Awalnya Dwi menolak, namun bujukan terus berdatangan. Tak lama kemudian, F datang ke rumahnya bersama Bripka A, sesama anggota Polres Pekalongan yang mengaku mantan anggota Densus 88. Keduanya meyakinkan Dwi bahwa mereka memiliki akses langsung ke seorang purnawirawan jenderal polisi bernama “Babe”, serta seseorang bernama Agung yang disebut-sebut sebagai adik Kapolri.

“Katanya sebelumnya ada yang batal pakai kuotanya, jadi masih ada satu slot kosong. Mereka bilang ini kesempatan emas,” tutur Dwi.

BACA JUGA:Bupati Ratna Machmud Dukung Program Sumsel Mandiri Pangan, Hadiri Dialog Interaktif di Palembang.

BACA JUGA:Bahlil Lahadalia Tanggapi Santai Meme Hinaan: Saya Sudah Biasa Dihina Sejak Kecil

Uang Mengalir Miliaran Rupiah

Terbujuk keyakinan bahwa jalur khusus itu benar-benar ada, Dwi mulai menyerahkan uang dalam beberapa tahap. Pada 21 Desember 2024, ia memberikan uang muka Rp. 500 juta secara tunai di sebuah kafe di Semarang kepada Aipda F dan Bripka A.

Beberapa minggu kemudian, pada 8 Januari 2025, keduanya kembali meminta Rp. 1,5 miliar dengan alasan “penutupan administrasi di Jakarta”. Karena desakan mendesak, Dwi bahkan meminjam uang dari saudaranya yang baru menjual dua mobil mewah, Rubicon dan Mini Cooper.

BACA JUGA:Festival Literasi 2025 di Kota Lubuk Linggau: Dorong Budaya Membaca dan Kreativitas Generasi Muda

BACA JUGA:Bupati Aceh Singkil Diminta Pecat Oknum PPPK yang Ceraikan Istri Dua Hari Sebelum Pelantikan

Tak berhenti di situ, Dwi kembali melakukan empat kali transfer ke rekening atas nama Joko, yang diperkenalkan sebagai penghubung Babe, dengan total Rp. 650 juta. Ia juga sempat mengizinkan anaknya berangkat ke Jakarta karena dijanjikan akan mengikuti pelatihan dan karantina sebelum seleksi lanjutan.

“Anak saya benar dibawa ke Jakarta. Katanya untuk persiapan dan diperkenalkan ke Babe. Tapi setelah itu tidak ada perkembangan apa pun,” ucap Dwi dengan nada kecewa.

BACA JUGA:Wakil Bupati Musi Rawas Ajak Santri Bangkit dan Siaga Jiwa Raga Pada Hari Santri Nasional 2025

BACA JUGA:Wakil Bupati Musi Rawas Buka MTQ Ke-53, Tekankan Pentingnya Nilai-Nilai Al-Qur’an Dalam Kehidupan.

Janji Manis Berujung Penipuan

Harapan Dwi benar-benar pupus saat hasil seleksi tahap pertama diumumkan: anaknya dinyatakan gagal di pemeriksaan kesehatan (rikes). Ketika mencoba menagih janji pengembalian uang, para pelaku justru saling melempar tanggung jawab.

BACA JUGA:Disway National Network Teken Kerja Sama dengan B Erl Cosmetics, Dorong Sinergi Positif Antar Industri.

BACA JUGA:Saya Pintar, Tapi Dulu Saya Sembunyikan, Ungkap Natalius Pigai Saat Terima Penghargaan.

“Mereka janji mau mengembalikan, tapi sampai sekarang tidak ada kabar. Semuanya diam,” ujarnya.

Merasa ditipu, Dwi akhirnya melapor ke Polda Jawa Tengah pada Agustus 2025. Laporan tersebut mencantumkan empat nama: Aipda F, Bripka A, Agung, dan Joko. Kasusnya kini telah naik ke tahap penyidikan.

“Saya sudah serahkan bukti transfer, percakapan WhatsApp, dan seluruh kronologinya kepada penyidik,” ungkapnya.

BACA JUGA:Motor Petani di Purwodadi Hilang Saat Garap Sawah, Pelaku Ternyata Residivis Pencurian.

BACA JUGA:Heboh! Pemuda di Padang Pariaman Live TikTok Sambil Minum Racun Karena Fitnah Mantan

Polri Tegas: Tak Ada Jalur Khusus

Kasus ini menambah panjang daftar dugaan praktik jual-beli kursi dalam seleksi Akpol. Padahal, Polri secara tegas melarang segala bentuk pungutan, perantara, maupun “jalur khusus” dalam rekrutmen anggota kepolisian.

BACA JUGA:Pria Asal Lubuklinggau Ilir Tewas di Kamar Hotel Burza, Diduga Tanpa Tanda Kekerasan.

BACA JUGA:Hasil Survei Celios: Bahlil Lahadalia Dinilai Jadi Menteri dengan Kinerja Terburuk, AHY Pimpin Daftar Terbaik.

Dalam setiap pengumuman resmi, Polri menegaskan bahwa penerimaan taruna Akpol dilakukan secara transparan, bersih, dan tanpa biaya. Pihak kepolisian juga kerap mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada oknum yang mengaku bisa “meluluskan” calon peserta seleksi.

BACA JUGA:Raisa Gugat Cerai Hamish Daud, Netizen Bongkar Lagi Kontroversi Lama Sang Aktor.

BACA JUGA:Viral di Musi Rawas, Mobil Pengantar Makan Bergizi Gratis Terpeleset di Jalan Desa Selangit.

Kini, Dwi hanya berharap agar uang hasil kerja kerasnya dapat kembali, dan para pelaku mendapat hukuman setimpal.
“Saya percaya karena sudah kenal dengan Rohim (Aipda F) sejak 2011. Ternyata kepercayaan saya disalahgunakan,” ucapnya lirih.

BACA JUGA:Tak Diproses Pidana, 4 Polisi Terlibat Penyelundupan Sabu Hanya Kena Sanksi Etik.

BACA JUGA:Dedi Mulyadi Bingung Sumber Air Aqua Dari Sumur Bor, Danone Angkat Bicara, BPKN Turun Tangan.

Sumber:

Berita Terkait